Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 16 April 2014

 Teknik pemesinan adalah suatu jurusan yang mempelajari cara memproduksi barang-barang teknik dengan menggunakan berbagai macam mesin. Teknik Permesinan merupakan suatu jurusan yang mendorong siswa untuk memiliki keahlian dalam mengoperasikan, menyeting, serta menentukan ukuran mesin-mesin produksi. Dalam hal lain Teknik Permesinan juga mendidik siswa untuk mempunyai pemikiran inovatif dan kreatif. Berikut ini beberapa macam mesin yang dipelajari oleh para siswa teknik permesinan di SMKN 1 KOTA BEKASI : 

Mesin sekrap
(shaping machine) digunakan untuk mengerjakan bidang-bidang yang rata, cembung, cekung, beralur, dan lain-lain pada posisi mendatar, tegak, ataupun miring. Mesin sekrap adalah suatu mesin perkakas dengan gerakan utama lurus bolak-balik secara vertikal maupun horizontal.
      Prinsip pengerjaan pada mesin sekrap adalah benda yang disayat atau dipotong dalam keadaan diam (dijepit pada ragum) kemudian pahat bergerak lurus maju mundur melakukan penyayatan. Hasil gerakan maju mundur lengan mesin/pahat diperoleh dari motor yang dihubungkan dengan roda bertingkat melalui sabuk (belt). Dari roda bertingkat, putaran diteruskan ke roda gigi antara dan dihubungkan ke roda gigi penggerak engkol yang besar. Roda gigi tersebut beralur dan dipasang engkol melalui tap. Jika roda gigi berputar maka tap engkol berputar eksentrik menghasilkan gerakan maju mundur lengan. Kedudukan tap dapat digeser sehingga panjang eksentrik berubah dan berarti pula panjang langkah berubah.
Mesin Bubut adalah suatu Mesin perkakas yang digunakan untuk memotong benda yang diputar. Bubut sendiri merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. 
       Dengan mengatur perbandingan  rotasi benda kerja dan kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai macam ulir dengan ukuran kisar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menukar roda gigi translasi yang menghubungkan poros spindel dengan poros ulir.
Roda gigi penukar disediakan secara khusus untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masing-masing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15 sampai dengan jumlah gigi maksimum 127. 
Mesin Frais adalah mesin perkakas untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu benda kerja dengan mempergunakan pisau Milling (cutter) sebagai pahat penyayat yang berputar pada sumbu mesin. Mesin Milling termasuk mesin perkakas yang mempunyai gerak utama yang berputar, Pisau Fris dipasang pada arbormesin yang didukung dengan alat pendukung arbor, jika arbor mesin berputar melalui suatu putaran motor listrik maka pisau Fris akan ikut berputar, arbor mesin dapat ikut berputar kekanan dan kekiri sedangkan banyaknya putaran dapat diatur sesuai kebutuhan.
      Prinsip kerja dari mesin Fris yaitu pahat pemotong Fris melakukan gerak rotasi dan benda kerja dihantarkan pada pemotong Fris tersebut.
Numerical Control / NC (berarti "kontrol numerik") merupakan sistem otomatisasi Mesin perkakas yang dioperasikan oleh perintah yang diprogram secara abstark dan disimpan dimedia penyimpanan, hal ini berlawanan dengan kebiasaan sebelumnya dimana mesin perkakas biasanya dikontrol dengan putaran tangan atau otomatisasi sederhana menggunakan cam.Dengan mesin CNC, ketelitian suatu produk dapat dijamin hingga 1/100 mm lebih, pengerjaan produk masal dengan hasil yang sama persis dan waktu permesinan yang cepat.
       Cnc terdiri dari 2 bagian mekanik dan kontrol. Bagian mekanik seperti : motor utama, eretan, motor step, rumah alat potong, cekam, kepala lepas, meja mesin. sedangkan bagian kontrol seperti : Saklar utama, saklar operasi mesin, saklar pengatur kecepatan putar, saklar layanan dimensi mesin, ampermeter, layanan penyimpanan program, saklar pengaturan asutan, tombol emergensi.

Menggerinda yaitu menggosok, mengauskan benda dengan gesekan atau mengasah. Dalam manufaktur ditunjukkan dengan pelepasan logam oleh suatu roda amplas putar, gerakkannya mirip dengan pemotong pada fris.
 Banyaknya mata potong kecil pada roda potong, menimbulkan penyelesaian yang sangat halus. Penggerindaan dapat menyelesaikan pekerjaan sampai ukuran teliti dan dalam waktu yang singkat.


Kamis, 06 Maret 2014

KEUTAMAAN MEMBACA SHOLAWAT 
Makna Kata ‘Shalawat’
Perkataan shalawat berasal dari bahasa Arab: ( الصلوات )‎, diambil dari perkataan shalat (الصلاة‎) yang bererti doa atau pujian. Shalawat Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah pujian-Nya di sisi para malaikat. Shalawat malaikat ialah doa memohon tambahan gandaan pahala. Dan shalawat orang Mukmin ialah berdoa memohon supaya Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat, menambahkan kemuliaan, kehormatan dan kepujian kepada penghulu kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .
Makna shalawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemuliaan dan keberkatan dari-Nya. (Lihat kitab Zadul Maasir, 6/398).
Ada juga yang mengatakan ia berarti taufik dari Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab:43).
Hukum Bershalawat
Para ulama’ telah sepakat menetapkan hukum bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  adalah wajib pada keseluruhannya, tetapi mereka tidak sepakat (ijma’) tentang kapankah saat wajib bershalawat dan berapakah bilangannya, di antaranya:
  1. Wajib bershalawat dalam masa mengerjakan shalat.
  2. Membaca tasyahud (tahiyyat).
  3. Membaca tasyahud kedua/tahiyyat akhir.
  4. Setiap kali menyebut, mendengar atau menulis nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , ganti namanya atau pangkat kerasulan dan kenabian Baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .
Arahan Membaca Shalawat
Dalam semua perintah mengerjakan ibadah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh hamba-Nya bershalawat. Sebagaimana dalam firman-Nya di atas tadi, Allah sendiri memulai shalawat ke atas Nabi, diikuti malaikat kemudian dianjurkan kepada Muslimin mengamalkannya. Ini bermakna membaca shalawat itu sangat utama.
Kelebihan Shalawat
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda:

«مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطيئاتٍ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ»

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)-nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak).” (HR An-Nasa’i No. 1297 dan Ahmad, shahih.)
Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dan anjuran memperbanyakkan shalawat tersebut.
Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang bakhil ialah mereka yang apabila disebut nama-Ku mereka tidak bershalawat.” (HR At Tirmidzi, shahih).
Banyak bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  merupakan tanda cinta seorang Muslim kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena itu para ulama’ mengatakan, “Siapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan sering menyebutnya”.
Shalawat Paling Afdhal (Utama)
Membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  adalah ibadah yang agung dan merupakan salah satu tanda kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  sekaligus menjadi faktor utama untuk mencapai syafaat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  di hari Kiamat kelak. Perintah kepada umat Islam untuk membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  datang setelah Allah Ta’ala memberitahu bahawa Dia bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  sebagaimana firman-Nya:

 إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi (Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu ke atasnya, serta ucapkanlah salam dengan penghormatan.” (Al-Ahzab: 56)
Ayat di atas tidak menjelaskan satu bentuk nash shalawat tertentu untuk dibaca apabila seorang Muslim hendak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .
Namun demikian, terdapat beberapa riwayat yang menukilkan bahwa beberapa orang Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  telah bertanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  cara ataukaifiyat untuk bershalawat ke atas beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , maka diajarkannya kepada mereka.
Di antaranya ialah riwayat dalam Shahih Al Bukhari no. 2497 dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu ‘Anhu. Shahabat yang mulia ini menceritakan bahawa para Shahabat pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  tentang bagaimana cara bershalawat kepada beliau.
Baginda menjawab dengan mengatakan: “Katakanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Inilah antara kaifiyat bershalawat yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  kepada para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum sebagai jawaban kepada pertanyaan mereka mengenai cara bershalawat untuk beliau. Maka adalah logis untuk dikatakan bahwa shalawat tersebut sebagai lafazh paling afdhal dalam bershalawat.
Al Imam Al Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:
“Apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  kepada para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum tentang kaifiyah (dalam membaca shalawat) ini setelah mereka menanyakannya, menjadi petunjuk bahwa itu adalah nash shalawat yang paling utama karena beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  tidaklah memilih bagi dirinya kecuali yang paling mulia dan paling sempurna.” (Fathul Bari: 11/66).
Menurut Kitab Mestika Hadits 1/259: “Dan yang seafdhal-afdhalnya ialah shalawat yang biasa dibaca selepas tasyahud akhir setiap shalat. Ini karena para ulama’ telah menetapkan bahwa siapa yang bersumpah atau bernadzar hendak bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dengan seafdhal-afdhal shalawat, tidak dihukum terlepas daripada wajib menepati sumpah atau nadzarnya itu melainkan dengan membaca shalawat itu.”
Maka adalah lebih baik apabila lafaz shalawat ini yang diamalkan dalam membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , bukan lafaz-lafaz shalawat susunan seseorang, meskipun bukan larangan untuk menyusun bentuk teks shalawat sendiri. Shalawat-shalawat selain yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  kadang-kadang tidak terlepas dari kekeliruan, baik dalam pemilihan bahasa, maupun –dan ini yang paling parah– kesalahan dalam akidah!
Waktu-waktu Utama Bershalawat
Waktu paling afdhal dituntut bershalawat ialah:
  1. Ketika mendengar orang menyebut nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  2. Sesudah menjawab adzan dan sebelum membaca doa adzan.
  3. Selesai berwuduk, sebelum membaca doa.
  4. Pada permulaan, pertengahan dan penutup doa.
  5. Di akhir qunut dalam shalat.
  6. Di dalam shalat jenazah.
  7. Ketika masuk dan keluar dari masjid.
  8. Setiap waktu pagi dan petang.
  9. Hari Kamis malam Jum’at.
  10. Sepanjang hari Jumaat.
  11. Ketika berada di mana-mana tempat perhimpunan orang banyak.
Demikianlah perbincangan ringkas tentang selawat ke atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai panduan untuk beramal dengan sunnah. Wallahu a’lam.

Manaqib Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi (Shahib Simthuddurar)

Penggubah Untaian Mutiara Kehidupan Rasulullah SAW, Maulid Simthuddurar, Al Allamah Arifbillah Al Imam Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dilahirkan di Qasam, Yaman pada hari Jum’at, tanggal 24 Syawwal 1259 H (1839 M). Nama Ali adalah pemberian dari Al Allamah Arifbillah Al Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba’alawi untuk bertabarruk dari Imam Ali Khali Qasam.

Ayahnya kelahiran Qasam, 18 Jumadil Akhir 1213 H, adalah seorang ulama dan wali besar yang kemudian hijrah ke Makkah Al Mukarramah dan menjadi Mufti Syafi’iyyah disana setelah kewafatan Al Allamah Arifbillah Asy Syaikh Ahmad Dimyati tahun 1270 H. Beliau tetap menjadi Mufti hingga kewafatannya pada hari Rabu, tanggal 21Dzulhijjah 1281 H. Beliau dimakamkan di pemakaman Hauthah Saadah Ba’alawi, Makkah. Sedangkan ibunya, Syarifah Alwiyah binti Husain bin Ahmad Al Hadi Al Jufri, adalah seorang wanita yang gemar mengajar dan berdakwah dari kota Syibam. Beliau dilahirkan pada tahun 1240 H dan wafat pada tanggal 6 Rabiul Akhir 1309 H. Habib Ali memiliki beberapa saudara, diantaranya Habib Abdullah, Habib Ahmad, Habib Husain, Habib Syaikh dan Syarifah Aminah.



Nasab Habib Ali adalah, Habib Ali Shahib Maulid bin Muhammad bin Husain bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah bin Muhammad bin Husain bin Ahmad Shahib Syi’ib bin Muhammad Ashghar bin Alwi bin Abu Bakar Al Habsyi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Assadullah bin Hasan Atturabi bin Ali bin Muhammad Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali Qasam bin Alwi bin Muhammad Shahib Saumah bin Alwi Shahib Sumail bin Ubaidillah Shahib Aradh bin Ahmad Al Muhajir-ilallah bin Isa Arrumi bin Muhammad Naqib bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Ash Shiddiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain Asy Syahid Syabul Jannah bin Ali bin Abu Thalib yang menikah dengan Fathimah Azzahrah binti Rasulullah SAW.

Ketika Habib Ali berusia tujuh tahun, ayahnya diperintahkan oleh Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba’alawi untuk hijrah ke Makkah dan tinggal disana hingga wafat. Pada usia ke-11, Habib Ali hijrah dari Syibam ke Seiwun bersama ibunya, sesuai perintah dari Al Allamah Arifbillah Al Habib Umar bin Hasan Al Haddad. Dalamp erjalanan itu beliau singgah di Masileh dan tinggal di rumah Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba’alawi. Disana beliau menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menelaah kitab, mengambil sanad dan ijazah.

Atas permintaan ayahnya, pada usia 17 tahun Habib Ali berlayar menuju Makkah dan memperdalam ilmu agama kepada ayahnya. Disana beliau tinggal selama dua tahun dan pulang kembali ke Yaman saat adiknya, Aminah menikah dengan Habib Alwi bin Ahmad Assegaf, salah seorang murid ayahnya. Setelah itu beliau kembali memperdalam ilmu agama kepada ulama-ulama di Yaman. Diantara guru-guru beliau adalah :

  1. Habib Abu Bakar bin Abdullah Al Attas (Guru Futhuh beliau)
  2. Habib Ahmad bin Muhammad Al Muhdhar
  3. Habib Abdullah bin Husain bin Muhammad Ba’alawi
  4. Habib umar bin Hasan Al Haddad
  5. HabibAbdurrahman bin Muhammad Al Masyhur
  6. Habib Ali bin Idrus Syahab
  7. Habib Umar bin Abdurrahman Syahab
  8. Habib Ahmad bin Abdullah Al Baar
  9. Habib Idrus bin Umar Al Habsyi
  10. Habib Muhammad bin Ibrahim Ba’alawi

Pada usia 37 tahun, beliau membangun sebuah Ribath (Pondok Pesantren) yang pertama kali didirikan di Hadramaut, yaitu di Seiwun dengan nama Ribath Riyadh. Kemudianpada tahun 1303 H, saat berusia 44 tahun, beliau membangun sebuah masjid disamping Ribath itu, dengan nama yang sama, Masjid Riyadh. Semua biaya untuk membangun keduanya ditanggung oleh Habib Ali, juga biaya-biaya santri yang monok di Ribath, ditanggung oleh beliau. Pada tahun 1255 H, putra beliau yang bernama Habib Alwi juga membangun Masjid Riyadh di Solo, Indonesia.

Telah banyak ratusan alim ulama yang dicetak di Ribath Riyadh di bawah bimbingan Habib Ali. Diantara murid-murid Habib Ali adalah :
  1. Habib Abdullah, Habib Muhammad, Habib Ahmad dan Habib Alwi (anak-anak beliau)
  2. Habib Syaikh bin Muhammad Al Habsyi (adik beliau)
  3. Habib Thoha bin Abdul Qadir bin Umar Assegaf
  4. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf (ayah Al Quthub Habib Abdul Qadir Assegaf)
  5. Habib Muhammad bin Hadi Assegaf
  6. Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Al Quthub, Gresik)
  7. Habib Ali binAbdul Qadir Alaydrus
  8. Habib Abdullah bin Ali Syahab
  9. Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri (ayah Sulthanul Ulama Habib Salim)
  10. Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi (Gubah Ampel, Surabaya)

Yang paling masyhur dari keharuman nama Habib Ali adalah karena gubahannya yang indah, sebuah untaian mutiara perihal perjalan hidup dan akhlak datuknya yang agung, yaitu kitab Simthuddurar Fii Akhbar Maulid Khoiril Basyar Wama Lahu Min Akhlaq Wa-aushof Wa-sirr, yang dikenal dengan nama Maulid Simthuddurar atau Maulid Habsyi. Beliau menggubah kitab ini ketika berusia 68 tahun. Pada hari Kamis, 26 Shafar 1327 H beliau mendiktekan bab pertama, lalu pada hari Kamis 10 Rabiul Awwal 1327 H, beliau menyempurnakannya, dan pada hari Jum’at 12 Rabiul Awwal1327 H, beliau membacakan seluruh isi kitab untuk pertama kalinya di rumah salah seorang muridnya, Habib Umar bin Hamid Assegaf.

Suatu ketikaHabib Ali pernah berkata mengenai kitab Maulidnya, “Jika sesorang menjadikan kitab Maulidku (Simthuddurar) sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, maka sirr (rahasia) Rasulullah SAW akan nampak pada dirinya. Aku yang mengarangnya dan mendiktekannya, namun setiap kali kitab itu dibacakan kepadaku, maka dibukakan bagiku pintu untuk berhubungan dengan Rasulullah SAW. Pujianku terhadap beliau dapat diterima oleh masyarakat. Ini karena besarnya cintaku kepada beliau, bahkan dalam surat-suratku, ketika aku meyifatkan RasulullahSAW, Allah SWT membukakan padaku susunan bahasa yang tidak ada sebelumnya. Ini adalah ilham yang diberikan Allah kepadaku.”

Pada penghujung hayatnya yang mulia, kesehatan Habib Ali mulai menurun dan dua tahun sebelum kewafatannya, beliau kehilangan penglihatannya. 70 hari menjelang wafat, beliau mengalami Isthilam hingga kesehatannya semakin melemah. Hingga pada waktu Dzuhur, hari Ahad tanggal 20 Rabiul Akhir 1333 (1913 M), beliau wafat meninggalkan dunia fana untuk berjalan diatas sutra surga menuju Rabb dan Kekasih-Nya. Jenazah beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Riyadh, Seiwun.

Habib Muhammad Al Habsyi, putra tertua Habib Alii ditunjuk oleh beliau sebagai khalifah penggantinya. Sedangkan saudaranya yang lain, yaitu Habib Alwi, kemudian hijrah dan berdakwah di Indonesia. Habib Ali menikah dua kali. Pertama dengan seorang wanita dari Qasam, dan melahirkan Habib Abdullah. Kedua dengan Syarifah Fathimah binti Muhammad Mulakhela dan mempunyai empat anak, Habib Muhammad, Habib Ahmad, Habib Alwi dan Syarifah Khadijah. Hingga kini anak cucu Habib Al i terus berdakwah meneruskan perjuangan Habib Ali, diantara mereka adalah Habib Anis bin Alwi bin Ali Al Hasyi, Solo.

Rabu, 05 Maret 2014

KHAIRUDDIN BARBAROSSA1 Comment so far

Pada tahun 1947, dari seorang pengrajin tembikar yang bersahaja di Pulau Mitylene (milik Kristen Yunani) lahirlah seorang anak yang kelak ditakdirkan membangun kembali supremasi kekuatan Islam di pantai selatan Laut Tengah, setelah ia menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Anak tersebut menjadi seorang muslim ketika berusia 21 tahun dan mendapatkan nama baru ‘Horush’. Dia lebih dikenal sebagai ‘Boba Horus’ karena janggutnya berwarna merah. Karena itu ia dipanggil ‘Barbarossa’ oleh pelaut-pelaut negara Kristen karena bagi mereka ia telah menjadi ‘teror lautan’. Dia adalah ‘Si Janggut Merah”, Khairuddin Barbarossa.
Dari sumber yang lain disebutkan bahwa kata Barbarossa (Berambut Merah)  adalah pengucapan yang salah dari kata “Baba Arouj” (Horush). Sedangkan menurut Encyclopedia Britanica, “Catatan sejarah kontemporer Arab yang diterbitkan oleh S.Rang dan F.Davis di tahun 1837, dengan tegas menyatakan bahwa Barbarossa adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Kristen kepada Khairuddin. Pendiri keluarga ini adalah Yaqub, seorang Roumaliot, yang mungkin berasal dari Albania dan mendiami Pulau Mitylene setelah ditaklukan oleh Turki. Dia (Yaqub) berputra empat orang : Elias, Arouj, Isaac, dan Khirz.” Arouj dan Khirz disebut juga Horush dan Khairuddin. Sejarah menyebutkan bahwa Barbarossa bersaudara lahir dari seseorang ayah Muslim.
Nama keluarga Barbarossa berkibar di lautan.  Keluarga ini menjadi pusat perhatian karena prestasi kelautan mereka. Dalam petualangannya, anak tertua keluarga itu dibantu oleh adiknya yang akhirnya lebih terkenal daripada dirinya. Keluarga ini merupakan terror bagi armada laut Kristen Genoa dan Spanyol. Keluarga Barbarossa-lah yang memungkinkan Kekhilafahan Turki tidak hanya memperluas wilayahnya ke seluruh Afrika Utara sampai ke pantai Lautan Atlantik, tetapi juga membangun supremasi kelautan mereka di Laut Tengah. Berbagai usaha juga dilakukan untuk merebut Semenanjung Iberia. Barbarossa bersaudara adalah orang yang menolong kekhilafhan Turki mengadakan pengawasan menyeluruh terhadap Marokko, Fez, Aljazair, Tunisia dan Tripoli.
Khairuddin Barbarossa adalah seorang yang berbakat dan berkemampuan besar. Pengetahuannya tentang strategi kelautan membuatnya menjadi momok bagi kekuatan-kekuatan kelautan musuh di Laut Tengah. Ia diangkat sebagai laksamana armada laut Turki oleh Sulaiman, khalifah Utsmani ketika itu.
Khairuddin Barbarossa segera menjadikan Khilafah Utsmaniyyah sebagai raja laut di Laut Tengah. “Semenjak saat itu, kekuatan Utsmani di pantai barat Afrika merupakan armada gabungan yang begitu hebatnya sehingga tak satu pun negara Eropa dapat menandinginya.”
Khairuddin Barbarossa memiliki semangat perjuangan yang tinggi. Beliau memiliki azzam untuk merebut kembali Semenanjung Iberia yang telah lama lepas. Untuk itu ia berusaha keras sampai titik darah penghabisan. Perjalanan hidupnya yang singkat diisi dengan usaha yang tidak kenal lelah untuk mencapai tujuannya itu. Dalam upayanya ini ia ditantang oleh kekuatan laut yang paling kuat pada masa itu, yaitu Spanyol dan Genoa. Seandainya umurnya masih panjang untuk beberapa tahun lagi, insyaallah ia dapat memenuhi cita-citanya itu.
Dalam ekspedisi lautnya, Barbarossa juga menyerbu ke pantai Italia. Di tahun 922 Hijriyah pertempuran laut meletus antara Perancis dan Spanyol. Barbarossa datang membantu Perancis untuk merebut Pulau Corfu dan kepulauan-kepulauan di Laut Aegean yang dikuasai Vanesia. Dengan usaha ini kekuasaan Utsmaniyyah meluas sampai ke Laut Aegean dan pantai Italia.
Keberhasilan Khairuddin Barbarossa selalu menjadi kekhawatiran kerajaan Kristen. Paus akhirnya mengadakan “Persekutuan Suci” dengan Spanyol, Hungaria, dan Venesia sebagai konspirasi melawan khilafah Utsmaniyyah, dengan tujuan tunggal, yaitu menghancurkan kekuatan laut Utsmaniyyah di Laut Tengah. Armada gabungan mereka yang kuat di bawah pimpinan laksamana kenamaan Mendosa dari Spanyol menantang armada Turki Utsmani di Laut Tengah. Pertempuran bersejarah pun meletus. Armada pasukan Salib terpaksa mundur dengan kerugian yang besar. Khairuddin Barbarossa memenangkan pertempuran laut yang mengesankan itu. Direbutnya juga beberapa pulau di Laut Tengah.
Sebagaimana tekadnya, Khairuddin Barbarossa berencana menaklukan Semenanjung Iberia dengan merebut Jibraltar. Beliau ingin menguasai Spanyol melalui rute yang pernah dijalani penakluk Islam Tariq bin Ziyad. Dengan bermarkas di Jibraltar, ia merencanakan serangan yang akan dilancarkan ke jantung semenanjung itu. Hanya sayangnya, rencanannya tertunda untuk waktu yang cukup lama akibat urusan lain. Sementara itu, orang-orang Spanyol melakukan persiapan penuh guna menghadapi serangan Khairuddin Barbarossa di tanah mereka sendiri, Jibraltar, yang telah mereka bentengi dengan baik.
Akhirnya, tibalah hari yang sangat menentukan. Pada tanggal 20 Agustus 1540, Khairuddin Barbarossa menyerang Jibraltar. Kota ini telah dibentengi dengan ketat ; orang-orang Spanyol mengerahkan semua pasukan mereka untuk menghadapi pasukan kaum Muslimin. Mereka bahkan menarik pulang Don Bernardo dan Mendosa dari Sicilia untuk menggantikan Admiral Don Alvaro de Bazon. Barbarossa melancarkan serangan itu dengan armada berkekuatan 16 kapal, diawaki oleh 100 pelaut dan 2.000 prajurit. Dalam waktu kurang dari 10 hari, ia menginjakkan kakinya di pantai Jibraltar.
Orang-orang Spanyol hampir tidak dapat menghadapi serangan gencar khilafah Utsmaniyyah itu dan terpaksa mengurung diri di dalam kota. Mereka tidak mampu menghadapi pasukan Barbarossa di medan perang terbuka. Meskipun akhirnya pengepungan itu terpaksa dihentikan karena kekurangan perbekalan dan kurangnya dukungan di darat, namun usaha tersebut telah mencatat nama Khairuddin Barbarossa dengan tinta emas perjuangan kaum Muslimin.
Khairuddin Barbarossa  meninggal tahun 1546. Tekadnya untuk menaklukkan Semenanjung Iberia tetap tak terwujudkan, tetapi ia memperoleh “tempat abadi” di dalam sejarah peperangan laut sebagai orang yang telah menghantarkan Khilafah Turki Utsmaniyyah sebagai negara berkekuatan maritim yang paling hebat di zamannya.
Selama masa kepemimpinannya dalam armada perang khilafah Utsmaniyyah, kurang lebih 14 tahun, wibawa dan kekuatan negara berdiri kukuh dan merupakan babak keemasan dalam sejarah Islam. Sejarawan mana pun akan mengabadikan nama Khairuddin Barbarossa, Si janggut Merah, sebagai pahlawan Islam yang gagah berani di lautan. Bahkan, untuk beberapa waktu lamanya, armada Turki senantiasa melepas tembakan salvo sebagai tanda penghormatan untuk mengingat Khairuddin Barbarossa setiap kali berlayar meninggalkan Tanduk Emas. Wallahu ‘alam bis showab! 

RAHASIA DAN KEISTIMEWAAN BERSIWAK 

Sabda Rosulullah SAW, “Assiwak muthahharatun lilfami mardhaatun lirrabb” : Siwak adalah pensuci mulut kita dan pembawa keridhoan bagi Allah. Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa “Rasulullah SAW berkali – kali, belasan bahkan puluhan bahkan ratusan riwayat yang menyebutkan tentang kemuliaan siwak. Di dalam hadits lainnya riwayat Shahih Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Lawla an asyuqqa alaa ummatiy La amartuhum bissiwaaki ma’a kulli sholaatin” : Kalau tidak karena risau akan memberatkan umatku niscaya kuwajibkan siwak itu pada setiap akan melakukan sholat.  Ada apa dengan siwak ? Di dalam riwayat Shahih Bukhari lainnya Rasulullah SAW bersabda, “Aktsartu ‘alaikum fissiwaak” : Aku sarankan dan aku himbau kalian dengan memperbanyak bersiwak. Di dalam riwayat lainnya Rasulullah SAW bersabda “Sholat bissiwak tafdhulu min sab’iin sholat bilaa siwak” : Shalat dengan memakai siwak pahalanya 70X lebih besar dari shalat tanpa memakai siwak.
Ada apa dengan 1 batang kayu yang terbuat dari pohon siwak ini ? Ketika Rasulullah SAW berkata, “Muthahharatun lilfam” : Pembersih mulut. Kita tahu kalau pembersih mulut / pasta gigi zaman sekarang dapat membersihkan mulut. Tapi apakah dapat membersihkan mulut dari dosa – dosa ? Adakah 1000 pasta gigi di muka bumi ini bisa mensucikan diri kita dari dosa? Siwak dapat mensucikan dosa – dosa yang ada di mulut kita. Mana buktinya ? kalimat selanjutnya, “Mardhotun lirrabb” : Membawa keridhoan bagi Allah SWT, jadi yang memakai siwak itu membuka keridhoan Allah SWT.
Para ilmuwan kita membuktikan pada kayu siwak itu banyak zat – zat yang bermanfaat bagi manusia. Diantaranya ada zat yang ketika terserap oleh syaraf di gigi dan mulut kita mempengaruhi syaraf pada otak kita dan menenangkan syaraf otak. Syaraf – syaraf otak itu menjadi tenang apabila terkena dan terangsang oleh zat yang ada pada kayu siwak yaitu turun emosinya. Kalau seseorang sudah turun emosinya, terjaga bibirnya, terjaga mulutnya dari mencaci, terjaga mulutnya dari membicarakan aib orang lain, terjaga mulutnya dari memfitnah orang karena emosi dan hatinya tenang. Demikian hebatnya tuntunan Sayyidina Muhammad SAW yang super modern. Oleh sebab itu beliau bersabda, “Aktsartu a’laikum fissiwak” : Aku sunnahkan, aku ajarkan, aku wasiatkan pada kalian untuk banyak memakai siwak, karena semakin banyak seseorang memakai siwak, makin tenang pikirannya, makin rendah emosinya, dan “Muthahharatun lilfam” : Mensucikan mulutnya dari dosa – dosa. Kalau mulut itu bersih dari dosa – dosa, doanya lebih cepat diijabah oleh Allah.
Berkata Sayyidatuna Aisyah, “Rasulullah SAW yuhibbu siwak” : Rasulullah SAW itu cinta sekali dengan siwak, selalu bersiwak dalam keadaan apapun. Maka saat beliau sudah di sakaratul maut, dahi beliau sudah terus keluar keringat dan beliau dalam demam berhari – hari seraya melirik siwak di tangan Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq r.a. Siwak dipegang oleh saudara kandungnya Sayyidatuna Aisyah yaitu Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq. Ada siwak ditangannya, Rasulullah melirik siwak itu. Saat itu Rasulullah sudah lemah dan menanti detik - detik kemangkatan. Maka Sayyidatuna Aisyah yang terus menangis berkata : “Aturiidussiwaak ya Rasulallah?” : Kau ingin siwak wahai Rasul ?, karena Rasul melirik siwak di tangan Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, Rasul mengangguk. Maka Sayyidatuna Aisyah mengambilnya dan membersihkan siwak itu, setelah bersih diberikan kepada Rasul dan beliau bersiwak. Setelah beliau bersiwak, beliau mengambil air di bejana dan membasuh wajahnya lalu berkata “Laa ilaaha illallah…., inna lilmauti sakaraat” : Beliau berkata, “Lailahailallah” sungguh dalam kematian itu sakarat yang memedihkan, kata Rasul SAW lalu beliau mengangkat telunjuknya ke langit dan beliau berkata, “Lirrafiiqil a’la” : Aku memilih untuk bersama Yang Maha Tinggi. Dan jatuhlah tangan beliau dan saat itulah beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. ( Riwayat Shahih Bukhari )
Di dalam riwayat lainnya dijelaskan Rasulullah SAW berdoa kepada Allah “Wahai Allah, pedihkan sakaratul mautku ini dan ringankan untuk ummatku”.  Aku saja, pedihkan untukku (Rasul SAW) sakaratul maut sepedih – pedihnya dan ringankan untuk ummatku. Maka beliau berkata “Inna lil mauti sakarat” : Sungguh pada kematian itu kepedihan, kata Rasul SAW. Lalu mengangkat tangannya dan berkata “Firrafiiqil a’laa” : Aku memilih untuk bersama Yang Maha Tinggi. Dan jatuhlah tangannya, berkata Aisyah r.a. nafas terakhir beliau kurasakan menghembus di pipiku dan wafatlah beliau SAW.
Beliau wafat dengan mengamalkan sunnah hingga berkata para muhadditsin, sunnah terakhir yang diamalkan oleh Rasul SAW adalah siwak sampai saat beliau ingin menghadap Allah pun masih beradab dengan bersiwak dulu baru menghadap Allah SWT. “Wa innaka la’alaa khuluqin adzim” : Dan akhlak agung beliau terlihat dari beliau belum memangku beban risalah sampai menjadi Rasul, walaupun beliau menjadi Rasul sebelum beliau lahir ke muka bumi, tapi pembawa tugas risalah mulai usia 40 tahun. Tapi beliau mulai dari lahir sudah digelari “Al Amin” : Akhlak yang agung. Lahir dalam keadaan sujud, demikian riwayat tsigah pada sirah Ibn Hisyam. Lalu beliau mempunyai akhlak yang sangat sempurna dan indah bahkan diakui oleh musuh – musuhnya sampai mengemban risalah, sampai wafat pun beliau dalam akhlak yang agung. Dalam akhlak yang agung bersiwak dulu sebelum menghadap Allah.
HIKMAH DAN WAKTU BERSIWAK
Siwak merupakan sunnah mu'akkadah dalam segala hal, sebagaimana hadits Rasulullah SAW bahwa setiap ibadah akan dilipat gandakan 70X lipat bila didahului dengan siwak dan juga hadits shohih yang mengatakan bahwa kalau seandainya tak risau memberatkan atas ummatku, maka akan kujadikan siwak merupakan hal yang wajib (fardhu) untuk di bulan Ramadhan atau yang sedang berpuasa, maka siwak tetap sunnah dilakukan, namun para ulama Syafi'i sebagian berpendapat bahwa sunnah hanya hingga waktu Zawal dan makruh bersiwak setelah waktu Zawal (zawal adalah saat matahari tepat di posisi puncak, beberapa menit sebelum Dhuhur).
Adapula pendapat Ulama yang mengatakan hanya hingga waktu Dhuha dan setelah itu hukumnya makruh dan adapula pendapat yang mengatakan hingga waktu Ashar dan adapula pendapat yang mengatakan bahkan hingga waktu buka puasa, sebagaimana Ulama - ulama salaf kita di Tarim Hadramaut. Pendapat manapun yang kita ambil, maka kesemuanya masing - masing memiliki sandaran hujjahnya. Namun lebih cenderung memilih pendapat yang terakhir, yaitu pendapat Ulama Salaf kita di Tarim Hadramaut, yang bersiwak sepanjang siang Ramadhan/puasa lainnya, sebab bersiwak setelah waktu zawal ternyata tidak hanya menghilangkan aroma mulut yang tidak sedap saja, tapi kita pun mendapat pahala rangkap, yaitu pahala siwak dan pahala dari aroma mulut yang tidak sedap.
Perlu diketahui bahwa aroma mulut yang tak sedap saat berpuasa ini mengganggu kita dan membuat kita terhina dan serba sulit berkomunikasi, hal inilah yang akan dibalas dengan pahala besar oleh Allah, karena kita harus terganggu dengan bau mulut dan merasa terhina, ini semua kita relakan karena untuk menjalankan perintah Allah SWT, maka pengorbanan ini akan dibalas oleh Allah SWT dengan bau aroma yang sangat wangi dan indah kelak dan hikmah aroma tak sedap itu adalah membuat kita malas berbicara hingga terjaga dari membicarakan orang atau mencaci atau bahkan membicarakan hal yang tak penting, maka puasa kita lebih terjaga.
MANFAAT KANDUNGAN KAYU SIWAK
http://abizakii.files.wordpress.com/2010/04/batang-siwak1.jpg?w=150&h=150Majalah Jerman memuat tulisan ilmuwan yang bernama Rudat, Direktur Institut Perkumanan Universitas Rostock. Dalam tulisannya itu ia berkata, “Setelah saya membaca tentang siwak yang biasa digunakan Bangsa Arab sebagai sikat gigi, sejak saat itu pula saya mulai melakukan pengkajian. Penelitian ilmiah modern mengukuhkan, bahwa siwak mengandung zat yang melawan pembusukan, zat pembersih yang membantu membunuh kuman, memutihkan gigi, melindungi gigi dari kerapuhan, bekerja membantu merekatkan luka gusi dan pertumbuhannya secara sehat, dan melindungi mulut serta gigi dari berbagai penyakit. Sebagaimana telah terbukti bahwa siwak memiliki manfaat mencegah kanker.”
Dalam penemuan ini terdapat dua mukjizat bagi Rasulullah SAW. Mukjizat pertama, yaitu manfaat -manfaat yang tampak pada siwak. Dengan ini, berarti Rasulullah SAW adalah orang pertama yang memerintahkan melindungi mulut dari berbagai macam penyakit. Mukjizat kedua, yaitu bagaimana Muhammad SAW bisa mengetahui dari sekian juta jenis pohon - pohonan, bahwa pohon siwak (saludora persica) mengandung banyak manfaat bagi manusia? Inilah sabda Nabi SAW yang menganjurkan kita untuk bersiwak,“Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhanya Rabb”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Sebuah riwayat mengatakan bahwa siwak mempunyai banyak fadhilah. “Hai Ali (kata Rasulullah SAW), biasakanlah olehmu bersiwak, karena di dalamnya ada 24 fadhilah (agama dan badan) yakni : Membersihkan mulut, Meridlokan ALLAH, Memutihkan gigi, Mengharumkan bau mulut, Meluruskan punggung, Menguatkan gusi, Melambatkan uban, Menjernihkan kejadian badan, Mencerdikkan kecerdasan, Melipat gandakan pahala, Memudahkan cabut nyawa, Mengingatkan syahadat di waktu mati, Mengekalkan siwak mewariskan luas, kaya, gampang rizki(murah rizki), Menenangkan pusing kepala, Menghilangkan semua apa yg ada dikepala dan dahak/reak, Menguatkan gigi, Menerangkan mata, Menambahkan pada kebaikan2 batin berbuat baik, Menggirangkan malaikat,bersalaman dengan malaikat, dan malaikat menggiringnya jika ia keluar untuk sholat,Diberikan suratan amal dengan tangan kanan, Menghilangkan penyakit lepra, Membanyakkan harta dan anak, Menjinakkan manusia didalam kuburnya dan datangnya malaikat maut waktu dicabut ruhnya didalam rupa yang bagus.
Dengan demikian, sebatang siwak yang digunakan dengan penuh keimanan dapat menggantikan peran dokter spesialis.
Kandungan Kimia Batang Kayu Siwak
Hasil penelitian oleh Al - Lafi dan Ababneh (1995) terhadap kayu siwak menunjukkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti :
· Antibacterial acids, yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan pada gusi.
· Kandungan kimia, seperti Klorida, Pottasium, Sulfur, Vitamin C dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
· Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.
· Enzim yang mencegah pembentukan plaque yang menyebabkan radang gusi. Plaque juga merupakan penyebab utama tanggalnya gigi secara premature.
· Anti decay agent (Zat anti pembusukan), yang menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan. Selain itu siwak juga turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih, dimana saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.
Cara Rasulullah SAW bersiwak adalah sebagai berikut:
1. Berdoa sebelum bersiwak. Salah satu do’a yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah: “Allahumma thahhir bissiwaak Asnaaniy, wa qawwiy bihi Litsaatsiy, wa afshih bihi lisaniy“, yang artinya “Wahai Allah sucikanlah gigi dan mulutku dengan siwak,dan kuatkanlah gusi-gusiku, dan fashihkanlah lidahku”
2. Memegang siwak dengan tangan kanan atau tangan kiri (ada perbedaan pendapat tentang hal ini) dan meletakkan jari kelingking dan ibu jari dibawah siwak, sedangkan jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk diletakkan di atas siwak.
3. Bersiwak dimulai dari jajaran gigi atas-tengah, lalu atas-kanan, lalu bawah-kanan, lalu bawah-tengah, lalu atas-tengah, lalu atas-kiri, lalu bawah-kiri. Jadi seperti angka 8 yang ditulis rebah
4. Langkah ke-3 di atas dilakukan 3x putaran
5. Selesai bersiwak, mengucapkan hamdalah, “Alhamdulillah“.
Kapan saja bersiwak ? Rasulullah SAW mencontohkan waktu-waktu utama bersiwak adalah sebagai berikut :
1. Hendak berwudhu dan sholat;
2. Ketika akan memasuki rumah;
3. Ketika bangun tidur.
4. Ketika sedang berpuasa (shaum);
5. Ketika hendak membaca Al-Qur’an.
Beberapa hal lain yang pernah Rasulullah SAW contohkan tentang bersiwak:
1. Cucilah siwak sebelum menggunakan dengan air bersih;
2. Sebelum digunakan, sebaiknya siwak diperbaiki/diperbagus terlebih dahulu;
3. Boleh menggunakan siwak orang lain setelah dibersihkan;
4. Bersungguh-sungguhlah ketika bersiwak;
5. Boleh bersiwak di hadapan orang lain (tidak harus sembunyi-sembunyi).